Bukittinggi, Jumat (31/10/2025) — Saat malam menyelimuti pelataran Jam Gadang, hawa dingin Bukittinggi tak menghalangi denyut kehidupan para pedagang rentengan. Mereka hadir bukan untuk mengganggu, bukan untuk memakan ruang, tapi untuk menjemput rezeki dengan cara yang sederhana — membawa kopi panas, mi instan, dan secercah harapan bagi keluarga serta pengunjung yang singgah.
Di antara mereka, ada Uni Gusmi (48), ibu tunggal yang sudah bertahun-tahun berjualan di kawasan ini. Malam baginya adalah waktu untuk bekerja dan berharap.
“Demi anak-anak bisa jajan ke sekolah besok pagi,” ujarnya sambil menata termos kopi yang mulai dingin.

Gusmi mengenang malam-malam di mana pengunjung hanya ingin beristirahat sejenak.
> “Ada keluarga singgah, anaknya rewel karena bosan di mobil. Saya tawari duduk di tikar lusuh ini. Dari situ saya sadar, orang singgah tidak selalu ingin membeli — kadang cuma butuh tempat hangat,” tuturnya.
Di sisi lain, Wati, pedagang lain, memikul dagangan setiap malam dengan tangan yang melepuh karena panas termos dan beratnya beban.
> “Kami tidak pakai meja atau tenda. Semua di jinjing. Tapi kami bertahan, karena ada harapan yang harus diwujudkan: anak-anak yang harus sekolah, orang tua yang harus dirawat meski kadang sering sakit. Ini alasan kami tetap berdiri malam-malam,” kata Wati.
Bagi mereka, pelataran Jam Gadang bukan sekadar lokasi berjualan, melainkan ruang kehidupan yang memberi makna. Mereka tidak menyebabkan kemacetan, tidak memakan ruang jalan, namun tetap menjadi bagian dari denyut ekonomi malam kota.
Ketika sebagian besar warga telah terlelap, para pedagang ini justru baru memulai perjuangan mereka. Di tengah dinginnya malam, mereka menjaga kehangatan kota dengan kerja keras dan ketulusan, mengajarkan arti bertahan dan harapan kepada siapa pun yang melintas.












