Berita

Kitab Standar Jadi Ujian Ilmu di MTQ Bukittinggi, Wawako Tekankan Tiga Amalan Al-Qur’an

×

Kitab Standar Jadi Ujian Ilmu di MTQ Bukittinggi, Wawako Tekankan Tiga Amalan Al-Qur’an

Sebarkan artikel ini
IMG 20251217 WA0001

 

Bukittinggi — Cabang Kitab Standar kembali menjadi sorotan dalam pelaksanaan MTQ Nasional XLI Tingkat Provinsi Sumatera Barat di Kota Bukittinggi. Bertempat di Masjid Mukhlisin Manggis, Kelurahan Manggis Ganting, Kecamatan Mandiangin Koto Selayan, perlombaan yang memasuki hari keempat, Selasa, 16 Desember 2025, ini menjadi ajang pembuktian kedalaman ilmu peserta dalam membaca dan memahami Al-Qur’an tanpa tanda baca.

Pada venue tersebut, lomba masih melanjutkan babak penyisihan untuk dua kategori, yakni Kitab Standar dan Tartil Al-Qur’an Eksekutif. Cabang Kitab Standar diikuti oleh 11 peserta, terdiri dari 6 putra dan 5 putri, sementara kategori Tartil Al-Qur’an Eksekutif diikuti 6 peserta, masing-masing 3 putra dan 3 putri. Kedua kategori ini dikenal memiliki tingkat kesulitan tinggi dan menuntut penguasaan ilmu Al-Qur’an yang komprehensif.

Pelaksanaan MTQ di Masjid Mukhlisin Manggis mendapat kunjungan langsung dari Wakil Wali Kota Bukittinggi, Ibnu Asis, S.STP. Dalam kunjungannya, ia menegaskan bahwa MTQ tidak boleh berhenti sebagai ajang perlombaan semata, melainkan harus menjadi ruang membumikan nilai-nilai Al-Qur’an dalam kehidupan masyarakat.

> “Dari Kota Bukittinggi, kita ingin Al-Qur’an benar-benar dibumikan. Ada tiga amalan utama yang harus kita lakukan, yaitu memahami, meyakini, dan mengamalkan Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari,” ujar Ibnu Asis, S.STP.

 

Ia menambahkan, melalui pelaksanaan MTQ di berbagai cabang lomba, pemerintah daerah berharap dapat menyiapkan generasi masa depan yang berkarakter kuat dan berlandaskan nilai-nilai Al-Qur’an.

> “Melalui MTQ ini, kita tidak hanya mencari juara, tetapi menyiapkan masa depan. Dari sinilah kita bisa mencetak generasi unggul dan generasi emas bagi Indonesia, sehingga nilai-nilai Al-Qur’an benar-benar membumi dalam sikap, perilaku, dan kehidupan sehari-hari,” tegasnya.

 

Sementara itu, salah seorang peserta cabang Kitab Standar, Sasa, mahasiswa S2 UIN Imam Bonjol Padang asal Padang, mengungkapkan bahwa cabang Kitab Standar masih sangat minim peminat karena tingkat kesulitannya yang tinggi, terutama penggunaan Al-Qur’an tanpa tanda baca.

> “Al-Qur’an yang tidak berbaris ini memang jarang dikuasai, bahkan oleh mereka yang belajar bahasa Arab dan fikih. Anak-anak zaman sekarang juga semakin sedikit yang mampu membacanya. Karena itu saya bersyukur Kitab Standar masih dipertandingkan di MTQ, agar ilmunya tetap hidup dan tidak terputus,” ungkapnya.

 

Ia juga menilai pelaksanaan MTQ di Bukittinggi memiliki keistimewaan tersendiri dibandingkan daerah lain.

> “Saya sudah sering mengikuti MTQ di berbagai daerah, dan Bukittinggi memang terasa berbeda. Fasilitasnya sangat baik, peserta menginap di hotel, dan sebagai kota wisata kami juga bisa menikmati keindahan panorama alam. Harapan saya, ke depan semakin banyak generasi yang mau dan mampu menguasai Kitab Standar ini,”tutup Sasa.

Penulis: Rafika Santi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *