Berita

Dari Bukittinggi, Doa Itu Mengalir: 29 Kafilah Menapak Final MTQN XLI Sumbar

×

Dari Bukittinggi, Doa Itu Mengalir: 29 Kafilah Menapak Final MTQN XLI Sumbar

Sebarkan artikel ini
IMG 20251218 WA0000

 

Bukittinggi — Di antara lantunan ayat suci yang menggema dari masjid hingga aula perlombaan, harapan itu tumbuh perlahan namun pasti. Pada Musabaqah Tilawatil Qur’an Nasional (MTQN) ke-41 Tingkat Provinsi Sumatera Barat, Kota Bukittinggi mengirimkan doa-doa terbaiknya melalui 29 kafilah yang melangkah ke babak final, Rabu (17/12/2025), yang digelar serentak di 16 venue.

Bagi Bukittinggi, angka 29 bukan sekadar hitungan statistik. Ia adalah jejak panjang pembinaan, kesabaran dalam latihan, dan keyakinan bahwa Al-Qur’an selalu menemukan jalannya di hati generasi muda. Dari ruang-ruang pembinaan hingga mimbar lomba, para kafilah membawa amanah besar: menjaga kemuliaan kalam Ilahi sekaligus nama daerah.

Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Bukittinggi, Eri Iswandi, selaku pimpinan kafilah, mengajak masyarakat untuk menyertai perjuangan para finalis dengan doa dan dukungan yang tulus.

“Prestasi ini bukan hanya milik peserta dan pelatih, tetapi milik seluruh masyarakat Bukittinggi. Doa adalah kekuatan paling sunyi namun paling menentukan,” ujarnya.

Keberhasilan menempatkan 29 kafilah di babak penentuan juga menjadi penanda kebangkitan prestasi Qur’ani Bukittinggi di tingkat provinsi. Capaian tersebut lahir dari proses yang tidak singkat—latihan yang berulang, disiplin yang terjaga, serta sinergi erat antara peserta, pelatih, pembina, LPTQ, dan dukungan pemerintah daerah.

Di sela-sela pelaksanaan final, Wakil Wali Kota Bukittinggi, Ibnu Asis, yang juga menjabat sebagai Ketua LPTQ Kota Bukittinggi, menyaksikan langsung perjuangan kafilah pada cabang Musabaqah Fahmil Qur’an (MFQ) di Auditorium Loetan Soetan Toenaro RRI Bukittinggi. Ia menyebut, jumlah finalis tahun ini merupakan yang tertinggi sepanjang keikutsertaan Bukittinggi di MTQN tingkat provinsi.

Namun lebih dari sekadar rekor, MTQN XLI Sumbar menjadi ruang ikhtiar dan muhasabah. Di setiap ayat yang dilantunkan, terselip doa agar Al-Qur’an terus hidup dalam keseharian masyarakat, bukan hanya di arena lomba, tetapi juga di rumah, di sekolah, dan di ruang-ruang pengabdian.

Kini, Bukittinggi menatap babak final dengan harap yang khusyuk. Menang adalah ikhtiar, namun menjaga adab, ketekunan, dan kecintaan pada Al-Qur’an adalah kemenangan yang sesungguhnya.

Penulis: Rafika Santi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *