Bukittinggi — Goresan ayat suci tak hanya berlomba dalam ketepatan, tetapi juga berbicara lewat kreativitas. Itulah yang terasa pada cabang lomba kaligrafi Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) Nasional XLI Tingkat Provinsi Sumatera Barat di Kota Bukittinggi, yang menjelma sebagai ruang belajar sekaligus panggung lahirnya generasi baru kaligrafer Al-Qur’an.
Sebanyak 101 peserta dari seluruh kabupaten dan kota di Sumatera Barat menampilkan kemampuan terbaik mereka di GOR Bermawi Bukittinggi selama MTQ berlangsung, 13–18 Desember 2025. Mereka beradu kepiawaian dalam lima golongan lomba, mulai dari Kaligrafi Naskah, Hiasan Mushaf, Dekorasi, hingga Kaligrafi Digital dan Kontemporer yang mencerminkan denyut zaman.
Komposisi peserta yang terdiri dari 48 putra dan 53 putri menunjukkan bahwa seni tulis Al-Qur’an terus menemukan tempat di hati generasi muda. Kehadiran kaligrafer perempuan pun menandai semakin luasnya ruang partisipasi dan kesinambungan tradisi kaligrafi Islam di Sumatera Barat.
Ketua Dewan Pengawas Hakim MTQ Nasional XLI Sumatera Barat, Dr. Ade Setiawan, SS, MA, menyebut lomba kaligrafi sebagai sarana pembinaan karakter sekaligus pemahaman keagamaan. Menurutnya, setiap peserta dilatih untuk sabar, teliti, dan disiplin dalam mengikuti kaidah penulisan ayat-ayat Al-Qur’an.
“Keindahan kaligrafi lahir dari ketundukan pada aturan. Di situlah nilai pendidikan MTQ dibangun, bukan semata pada hasil, tetapi juga proses,” ujarnya.
Ia menambahkan, kehadiran kategori digital dan kontemporer menjadi bukti bahwa MTQ mampu menyapa perkembangan teknologi dan ekspresi seni modern, tanpa meninggalkan akar nilai seni Islam yang sakral.
Terbukanya lomba kaligrafi bagi masyarakat memberi kesempatan publik menyaksikan langsung proses kreatif para peserta. Selain memperkuat syiar Al-Qur’an, kegiatan ini diharapkan melahirkan kaligrafer unggul yang kelak mengharumkan nama Sumatera Barat di tingkat nasional.
Melalui cabang kaligrafi, MTQ Nasional XLI di Bukittinggi kembali menegaskan jati dirinya sebagai ajang pembinaan dan pewarisan nilai Al-Qur’an melalui seni dan budaya, tempat keindahan bertemu dengan ketakwaan.












